Sabar ya sayang..
Lama sekali gak nulis disini lagi. Sebulan lebih kalau dilihat posting terakhirku. Hidupku lagi chaos memang. Naik turun, dengan gejolak emosi yang juga seperti roller coaster. Sidang pertama “mereka” sudah sebulan lalu. Seperti biasa, hakim menyarankan mereka untuk berdamai dan rujuk. Upaya mediasi pun dilakukan.
Proses yang sungguh membuatku kasihan padanya. Karena seperti kaset usang yang diputar ulang, dia harus membeberkan lagi dari A-Z kronologi kisruh rumah tangga mereka hingga sampai pada diajukannya gugatan. Melelahkan dan menguras emosinya. Semoga itu yang terakhir kalinya dia harus melakukan itu. Tak tega aku mendengarnya.
Sidang kedua akan dilakukan minggu depan. Tak harus hadir, karena sudah ada pengacara yang mewakilinya. Menurut pengacaranya, kemungkinan bulan Agustus sudah bisa selesai persidangan ini. Tentunya dengan ketok palu dari hakim yang memutuskan mereka resmi bercerai. Semoga saja tidak molor. Hanya aku belum tahu berapa lama surat cerai itu akan keluar dari catatan sipil setelah sidang memutuskan. I need the paper immediately to go to the next step, mengurus persiapan pernikahan ke gerejaku di Jogja.
Aku akan pindah kantor. Setelah bingung menentukan langkah akan kemana, akhirnya ada sebuah kantor baru dimana sahabat-sahabat lama bergabung yang menarikku untuk turut serta. Rasanya keputusan meninggalkan kantor lama sudah bulat. Kami butuh hidup baru. Dan lembaran baru ini dimulai dengan pekerjaan baru, sebelum status baru sebagai suami istri. Kekasihku pun sedang dalam proses interview dengan salah satu perusahaan multinasional. Mudah-mudahan dia pun segera mendapatkan tempat barunya. Berulangkali kubilang padanya, aku lebih suka serumah dengannya daripada sekantor.
Sebelum pindah ke kantor baru, aku ingin menghabiskan cuti tahunanku yang lama belum kuambil. Hari-hari ini merupakan saat-saat terakhirku di kantor yang sarat kenangan di tiap sudutnya itu. Minggu depan saat sidang keduanya berlangsung, aku sudah terbang ke Amerika sana, mengunjungi keluarga kakakku yang bermukim di New York. Biarlah kusisakan ruang extra untuknya menyelesaikan semua persoalan ini. Berharap pada saat kukembali nanti, palu hakim itu sudah resmi membebaskannya dari ikatan pernikahan yang sudah rapuh itu. Dan kami bisa segera melangkah membangun babak baru hidup kami.
Tak sabar rasanya untuk menemukannya disampingku ketika mata terbuka untuk pertama kalinya di pagi hari, setelah memeluknya sepanjang malam. Bercinta dengannya kapan pun upik mau. Menggoda si bobo dengan sebutan kesukaanku, my loly bobo. Merawatnya ketika dia sakit. Membuatkan kopinya tiap pagi, dan menyaksikan tubuh yang berkulit putih itu dibawah segarnya pancuran air setiap hari.
Seringkali aku protes ketika dia mengantarku pulang setiap habis kami kencan. “Aku gak mau pulang,” rengekku persis gadis remaja. Rasanya ingin sekali kami bisa segera pulang ke rumah yang sama. Menyaksikannya tertidur lelap di sebelahku dalam damai. Menciumnya selamat malam, dan selamat pagi. Biasanya dia hanya tersenyum menanggapiku,”Sabar ya Sayang,” katanya.
Iya ya, sabar ya ..sedikit lagi kok, udah mau sampe
I dont know what to say, but I’m here for you
Wajahnya kusut masai ketika mampir ke ruanganku untuk numpang merokok seperti biasanya. Batik merah cerah yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kelelahan dan kegundahan hatinya. Hari ini memang membuatnya lelah secara mental. Hari yang diawali dengan sebuah momen yang tak terlupakan dan menyakitkan.
Pagi tadi surat perjanjian yang menyepakati pembagian harta gono gini dan pembagian hak asuh anak, akhirnya ditandatangani oleh kekasihku dan ibu suri. Proses panjang yang menguras energi dan emosi. Bolak-balik untuk merevisi banyak hal, hingga akhirnya dicapai sebuah kesepakatan oleh kedua belah pihak mengenai hal yang krusial dari sebuah perceraian. Read the rest of this entry »
berjalan dan bertahan…
berjalan diatas titian dibelah tujuh
gamang hampa melayang
tangan menggapai menerpa angin
memaksa diri terus melangkah
setapak demi setapak, maju terus maju
kadang badai datang menyergap
coba goyahkan tanah pijakan
adakah aku akan kalah ?
berat sungguh tapi aku harus kukuh
sang jiwa telah menjatuhkan pilihan
hanya berharap kekuatan untuk terus bertahan..
demi setitik asa di ujung senja..
New chapter, a metamorphosis
Perbincangan bersama Ndoro Kakung minggu lalu sungguh menginspirasiku untuk melakukan perubahan pada tampilan dan nafas blog ini. Sebelumnya aku menyampaikan keinginanku pada Ndoro, bahwa aku ingin menutup saja blog ini.
Terus terang saja, lama-lama aku gerah juga dengan berbagai komentar negatif di blog ini. Kalau hanya tudingan miring terkait dengan nama blog ku dan kisah-kisah yang ku posting sih nggak papa. Aku hanya ingin berbagi cerita, mau dibaca sukur nggak ya kebangetan hehehe. Nggak dink, maksudnya kalo soal suka atau ndak ya itu kan urusan selera. Ada banyak faktor yang membentuk pola pikir dan cara pandang seseorang tentang sesuatu, dan tentu saja itu juga pada akhirnya akan menentukan soal selera dan pendapat.
Orang-orang konservatif dan mainstream dengan jalan hidup yang lurus dan normal-normal saja tentu saja akan memandang negatif, rendah, dan menuding betapa amoralnya manusia-manusia seperti aku. Tapi orang-orang yang lebih berpikiran terbuka, atau memang pernah mengalami kejadian-kejadian besar yang tak biasa dalam hidupnya, mungkin akan lebih toleran dan bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda terhadap kisah-kisah yang kupaparkan dan manusia-manusia yang menjalaninya sepertiku.
Meet The Juniors
Akhir pekan ini sungguh istimewa. Untuk pertama kalinya kekasihku mengajakku berkenalan dengan anak-anaknya. Kebetulan ibu suri sedang berada di luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Kami pun berniat untuk pergi ke Dufan, tapi ternyata Jakarta diguyur hujan deras dan jalanan macet luar biasa untuk ukuran akhir pekan, sehingga kami akhirnya memutuskan untuk ke Sea World saja. Ini pun atas pilihan anak-anak yang sedang exciting mengenal berbagai jenis hewan, terutama ikan. Sea World adalah pilihan yang tepat.
Entah apa yang ada di kepalanya ketika beberapa hari sebelumnya dia melontarkan ide itu kepadaku. Are you ready to meet my kids ? tanyanya. Aku pun tidak memungkiri bahwa rasa nervous cukup kuat menderaku pada awal ide itu dilontarkan. Tapi aku tahu ini hanyalah soal waktu. Soon or later I have to meet them. Dan mungkin sekaranglah saatnya, mumpung ibu suri juga sedang gak di Indonesia.
Meskipun dia sudah berusaha meredakan nervousku dengan mengatakan just be fun, targetnya gak muluk-muluk kok, hanya untuk saling mengenal saja dulu, rasanya aku tetap spanneng. Aku adalah penyuka anak-anak, dan selama ini tak pernah kesulitan dalam hal berinteraksi dengan anak-anak. Aku adalah tante favorit bagi para keponakanku. Tapi rasanya untuk dua anak ini ada sesuatu yang membuatku merasa terbebani, bahwa aku “harus” bisa menancapkan image yang baik at the first time. Aku harus tampil “sempurna”, mendapat penerimaan yang baik, dan segudang harapan yang kutahu aku taruh sendiri ke pundakku. Jadilah rasa nervous itu tak juga hilang.
Pertarungan pun dimulai
Akhirnya peluit tanda pertandingan di ruang sidang pun ditiup. Bola sebagai tanda dibukanya pertandingan sudah ditendang oleh kekasihku menuju gawang lawan. Aku sebagai penonton sekaligus suporter setia hanya bisa berdiri di pinggir lapangan sambil harap-harap cemas. Berharap agar pertandingan segera usai dengan piala kemenangan di tangan kekasihku.
Semoga tak perlu ada aksi jegal-menjegal dan upaya saling mencederai dalam pertandingan ini. Karena aku tak tega menyaksikan dia kembali terluka dengan tubuh carut marut. Sudahlah..bukannya pertandingan ini hanyalah formalitas. Segera saja mainkan sebagai persyaratan untuk melanjutkan hidup pada babak baru dari masing-masing kubu yang bertarung.
Sebuah situs mengenai perceraian,yang kutemukan di sebuah milis pembaca majalah perempuan, rupanya sangat membantunya dalam menyusun dan melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan. Memberinya gambaran yang gamblang mengenai langkah-langkah yang harus dilaluinya, untuk segera mengantongi surat cerai dari catatan sipil.
Aku hanya bisa berdoa dan memberinya dukungan dengan sepenuh hatiku… Sayang, sabar ya, aku gak kemana-mana kok. Aku tunggu kamu disini, dengan segenap cinta untuk merajut hidup baru bersamamu.